Dwi Widya's


Cerita para Pendaki

Posted in Hikmah oleh Dwi Widya pada Oktober 2, 2009

Jun 4, ’09 10:00 PM

Semoga kita bisa mangambil ibroh dari peristiwa ini.

RADAR BEKASI, 29 MEI 2009
Cerita Para Pendaki Selama Hilang di Hutan

1. Iwan (35 tahun)

Membuat Surat Wasiat

Kondisinya paling parah di antara tujuh pendaki yang lain. Pada hari
ketiga atau Sabtu (23/5) kepalanya terantuk batu dan menyebabkan
pendarahan yang cukup lama. Berdasarkan penuturan Didi (28), darah di
kepala Iwan tak berhenti mengalir.
“Mengalir deras seperti leher kambing yang baru disembelih,” katanya
sambil mengerutkan wajah. Namun, kondisi Iwan berangsur-angsur pulih.
Setelah kepalanya yang sobek itu ditutupi kain, pendarahannya
berhenti.

Iwan adalah orang yang dituakan di antara tujuh pendaki. Saat dua
pendaki lain sudah ditemukan, Iwan dan empat lainnya tetap tegar.
“Saya seperti merasa dilindungi oleh yang Mahakuasa. Dzikir dan shalat
tidak pernah saya tinggalkan. Alhamdulillah selama pencarian jalan
menuju pulang, kami tidak dihadapkan dengan masalah-masalah lain,”
katanya yang saat ditemui Radar Bekasi sedang dirawat intensif dokter
RSUD 45 Kabupaten Kuningan.

Ia menceritakan, persediaan makanan yang mereka bawa hanya cukup untuk
satu hari. Selebihnya selama enam hari mereka berusaha menghemat
persediaannya. “Enam hari itu kami hanya hidup dari air, madu dan mie
instan,” ujarnya. Selama enam hari itu, lima pendaki ini selalu
membagi satu mie instan untuk dikonsumsi tiga orang setiap harinya.
Selebihnya mereka tidak makan lagi.

Iwan dan enam kawannya merasa tersesat sesaat setelah memutuskan untuk
memotong jalan. Aksi potong-memotong jalan secara serampangan ini
membuat mereka tak lagi menemukan jalan konvensional yang biasa
digunakan para pendaki. Saat itu, ilalang mereka terabas agar bisa
melihat jalur. Maklum, ilalang di atas ketinggian 2.000 mdpl adalah
ilalang yang berduri. “Kami baru sadar kalau kami tersesat pada Sabtu
(23/5),” kata Iwan.

Menginjak hari kelima mereka tersesat, Iwan sempat mencetuskan untuk
membuat surat wasiat. Empat orang lainnya juga diajak untuk membuat
surat wasiat, namun urung. Jadi, hanya Iwan yang menulisnya. Menurut
penuturan Darsono, surat wasiat itu ditulis sebagai persiapan jika
mereka ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Di dalamnya terdapat
tulisan yang meminta agar pihak keluarga menyelesaikan segala urusan
seperti utang yang sedang diemban Iwan. Namun, Iwan enggan membeberkan
surat yang telah ia buat.(ndi)

2. Didi (28)

Minum Air Kencing

Iwan merasa jijik ketika Didi dengan santainya menadah air kencingnya
sendiri kemudian mencampurnya dengan bubuk Extra Joss. Setelah diaduk
beberapa saat, Didi kemudian meminum air kencingnya sendiri. “Ternyata
rasanya kecut ya,” kata Iwan menirukan kata-kata Didi yang terdengar
polos.

Menurut Iwan, Didi mengalami dehidrasi sehingga harus meminum air
kencing sendiri. “Waktu itu saya bilang, ‘mau bagaimana lagi, ini
dalam kondisi darurat’. Silakan saja,” Iwan mempersilakan Didi.

Ketika Radar Bekasi mencari kebenarannya pada Didi, ia memang meminum
air kencing itu. Tapi bukan karena dehidrasi. Ia meminum air seninya
sendiri semata-mata untuk memberi motivasi agar teman-temannya tetap
semangat. “Saya melihat semangat kawan-kawan kendur. Dengan meminum
air kencing, saya ingin buktikan bahwa kita masih bisa bertahan hidup
walau situasi buruk sekalipun,” katanya.

Didi pula yang mencetuskan membuat surat petunjuk dan menaruhnya di
bawah sandal jepit. Dengan surat ini Didi berharap agar Tim SAR segera
menemukan mereka.

Selama tersesat Didi mengaku tak ada banyak ketegangan yang dirasakan.
Selama perjalanan, masing-masing pendaki memiliki cerita-cerita
sendiri untuk diperdengarkan. Iwan sebagai orang yang dituakan bahkan
selalu bercerita tentang sesuatu yang lucu. Cerita tentang sahabat
Rosulullah juga menjadi bahan untuk memotivasi diri dan menghilangkan
rasa bosan selama pencarian jalan menuju pulang.(ndi)

3. Darsono (36)

Nyawa Terasa Sangat Dekat

Agar tidak ada satu pun yang terpisah dari rombongan, lima pendaki
yang masih tersesat berkomitmen menghubungkan satu sama lain dengan
seutas tali. Tali itu dibentuk seperti rantai yang merangkai mereka
berlima. Tali tersebut diikatkan pada pinggang agar dapat bergerak
bebas selama perjalanan mencari jalan keluar.

Jika medan terjal, ikatan tali dilepas. “Ini untuk menghindari agar
semua tidak jatuh begitu satu orang jatuh. Namun, jika jalan kembali
landai, tali kami ikatkan kembali. Ini juga dilakukan untuk memberi
efek psikoligis bahwa kami akan tetap bersama,” kata Darsono.

Darso ditemui Radar Bekasi sedang berbaring. Dua orang suster sedang
memeriksa tekanan darahnya dan sedang membersihkan darah kering di
telapak tangannya yang tersayat ilalang berduri. Darsono terlihat
lemas dan belum mampu terbangun untuk makan bubur yang telah
disediakan pihak rumah sakit.

Tak lama berselang, ia bangun. Kakinya masih diselonjorkan. Ia
bercerita bahwa dirinyalah yang paling panik di antara empat teman
lainnya. Sewaktu Iwan mencetuskan untuk membuat surat wasiat, ia pula
yang pertama kali menolak. “Kami merasa nyawa sudah dekat,”
gumamnya.(ndi)

4. Abdul Hatni (33)

Semangat Berlipat

Abdul Hatni adalah orang yang paling emosional di antara lima pendaki.
Begitu salah satu regu Tim Gabungan menemukan mereka, ia lantang
berteriak “Allahu Akbar”. Selama perjalanan menuju rumah sakit, setiap
orang yang ia temui dan bersamalan selalu diakhiri dengan diteriaki
frasa itu.

Hatni bisa dibilang sebagai pendaki yang kondisi fisiknya paling
stabil setelah penemuan itu. Ia sempat menolak menaiki motor trail
menuju ambulans yang sedang menunggu di kaki gunung. Di rumah sakit,
ia pun menolak untuk diinfus karena merasa kondisinya sehat-sehat
saja. Bahkan ia langsung mandi dan menunaikan shalat dzuhur.

Padahal, berdasarkan cerita Darsono yang berbagi satu kamar di ruang
nomor 1 Ruangan Beda RSUD 45 Kabupaten Kuningan, kondisi tubuh Hatni
paling lemah selama tersesat. “Saya heran, kok, sekarang justru dia
yang paling kuat,” katanya.

Jika para pendaki lain masih berbaring di kasur, Hatni justru
berjalan-jalan. Ia makan bubur dengan lahapnya. Sempat-sempatnya ia
mencari cara agar kasur rumah sakit bisa tertekuk agar dirinya nyaman
menonton televisi.

“Memang selama diperjalanan, fisik saya paling lemah, namun setelah
mendengar cerita-cerita perjuangan sahabat Rosulullah, semangat saya
berlipat,” ujar Hatni bercerita. Tak henti-hentinya Hatni berdoa agar
dirinya diberikan ketabahan dan bersama teman-temannya bisa menemukan
jalan pulang.(ndi)

5. Gembong (27), warga Jalan Irigasi Margahayu Bekasi Timur

Buang Perbekalan

Selama matahari terbit, lima pendaki ini terus melakukan perjalanan.
Beristirahat sebentar kemudian berjalan kembali agar bisa segera
menemukan jalan keluar. Ini terus dilakukan selama mereka tersesat.
Baru ketika matahari tenggelam digantikan malam, mereka beristirahat.

Semua rintangan yang ada selama perjalanan hanya diatasi dengan
peralatan manual. Pisau seadanya, penerang lampu yang minim, dan tanpa
korek api. Jika malam tiba, penerangan hanya sesekali digunakan
melalui media lampu senter. Mereka tak dapat menyalakan api unggun
karena tak punya korek. Dingin sudah menjadi menu setiap malam.

“Saya sempat mengalami dehidrasi. Saat itu persediaan air sudah habis.
Sungai tak ada air. Untungnya malam itu hujan, jadi kita bisa
mengambil air hujan,” kata Gembong. Ia mengakui, medan yang ditempuh
amat terjal dan berbahaya. Mereka harus turun lembah dan naik bukit
agar tetap pada komitmen awal: terus menyusuri aliran sungai.

Beban yang tidak banyak pun terpaksa harus dipangkas. Ini dilakukan
agar beban semakin ringan. “Kami sudah tidak berpikir lagi untuk
membawa perbekalan sebanyak-banyaknya. Kami hanya memikirkan bagaimana
caranya agar tim pencari segera menemukan kami,” katanya. (ndi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: