Dwi Widya's


Komitmen

Posted in Hikmah oleh Dwi Widya pada Oktober 2, 2009

Jun 8, ’09 8:59 PM

Bukanlah seorang dikatakan zuhud, mereka yang tidak memiliki harta, dan kesulitan memenuhi kebutuhannya. Itu namanya pengakuan tak beralasan. Mereka yang zuhud justru orang yang memiliki fasilitas berllimpah, namun dengan sadar mengekang dirinya untuk tunduk daalam kezuhudan. Inilah orang-orang yang memproklamasikan komitmennya kepada dakwah dan jihad. Merekalah ash-shodiqun, yang dibanggakan Allah dalam Qs. Al Hujarat:15. mereka bias karena memiliki komitmen yang hidup.

Decap lidah dan alunan retorika kita, kini banyak tidak menemukan bentuknya yang hidup. Padahal disitulah rahasia hati untuk jatuh cinta. Disitulah semua mata umat sedang menilai. Disitulah keteguhan dan kekuatan dikumpulkan. Untuk kelak suatu saat, Allah tetapkan diri kita, lulus bergabung dalam barisan para pelaku sejarah.

Imam Ibnul Qayyim mengingatkan, bahwa hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang dijalani. Tapi dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita. Itulah bukti wawasan, itulah bentuk nyawa pemahaman, dan seperti itulah proklamasi komitmen dakwah kita.

Tidak sulit kaum fakir untuk zuhud kepada makanan. Tidak sulit orang mmiskin untuk zuhud kepada harta. Tidak sulit pengangguran untuk zuhud kepada jabatan. Tidak sulit…, lalu bagaimana dengan orang berharta yang sekarang memegang jabatn, dan mereka yang saat ini Allah berikan atas dunia dan kehidupan. Disitulah rahasia zuhud sebenarnya. Pada merekalah—kita semua yang termasuk didalamnya—potret nyata zuhud itu dirindukan umat.

Sekiranya kita semua ini belum sadar juga, maka bangunlah. Pada jejak kemenangan Rasulullah dan sahabat, ada rahasia yang begitu nyata diproklamirkan. Adalah bahwa selain mereka menyerukan Al Qur’an, menuliskan Qur’an, dan memasyarakatkan Qurr’an; mereka adalah Qur’an-Qur’an itu sendiri. Itulah jawaban mengapa seorang raja bias tidur nyenyak dibawah naungan pohon berbantalkan pelepah kurma tanpa pengawal. Itulah argumentasi sederhana mengapa seorang pejabat gubernur adalah orang yang paling berhak menerima zakat di daerah kekuasaanya. Itu jugalah alas an yang paling mungkin, mengapa Allah memberikan kekuasaan dan kemenangan tersebut kepada mereka. Karena komitmen mereka teruji.

Maka pagi hari itu, dengan matahaari sebagai saksi, sudahkah komitmen itu kita niatkan untuk semua amanah yang ada pada diri. Sudahkah komitmen itu dipatri dalamhati, untuk menjadi sebanyak mungkin amal yang menghias akhlak dan perilaku kita. Sudah siapkah kita menjadi bukti hidup atas semua seruan dakwah yang hari ini bersama-sama kita usung dan tegakan. Sungguh, itulah alas an utama Allah berikan kemenangan yang kita lantunkan dalam harap dan do’a. Jika belum…sadarlah kita belum lagi melakukan apa-apa…!!!

“Sangat besar kemurkaan Allah kepada orang-orang yang menyeru tetapi tidak mengamalkannya.” (QS Ash Shaf:3)

Wallahu a’lam.

(From Majalah al-Izzah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: