Dwi Widya's


Angin Kemenangan dari Yarmuk

Posted in Sirah oleh Dwi Widya pada Oktober 24, 2009

“Wahai Hamba Allah, bantulah agama Allah, pasti Ia akan membantu kalian dan mengokohkan kaki kalian. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Wahai kaum muslimin, bersabarlah kalian. Sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan membuat ridha Rabb kalian dan menjauhkan kalian dari celaan. Jangan sampai kalian meninggalkan tempat dan jangan memulai maju menyerbu mereka. Tetapi seranglah mereka dahulu dengan panah, dan berlindunglah kalian dengan perisai kalian. Perbanyak diam kecuali dzikir kepada Alloh dalam diri kalian, hingga aku mengintruksikan sesuatu kepada kalian, insya Allah.”

Perkataan di atas merupakan nasehat Abu Ubaidah kepada kaum muslimin dalam Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 13 Hijriah, yakni pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Perang Yarmuk adalah perang antara kaum Muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Kekaisaran Romawi Timur yang dipimpin oleh Tazariq. Pertempuran ini oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena perang ini menandakan gelombang besar pertama penaklukan pasukan Islam di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Nasrani.

Pada peperangan ini Khalid bin Walid membawa 30.000 hingga 40.000 pasukan. Jumlah tersebut merupakan jumlah pasukan Muslim terbesar yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah Arab. Saif bin Umar meriwayatkan dengan sanadnya dari para gurunya, bahwa dalam tentara kaum muslimin terdapat 1000 orang sahabat nabi, 100 dari mereka adalah pasukan yang ikut dalam perang Badar.

Sedangkan di pihak Romawi, jumlahnya jauh lebih besar daripada pasukan Khalid. Pada peperangan ini tentara Romawi keluar dalam jumlah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yakni sebanyak 240.000 personil pasukan. Terdiri dari 80.000 pasukan diikat dengan rantai besi, 80.000 pasukan berkuda dan 80.000 pasukan infantri. Mereka juga membawa para pendeta, uskup maupun pihak gereja untuk memberikan motivasi kepada pasukan agar mereka menang.

Namun, jumlah musuh yang lebih banyak tidak membuat gentar Khalid dan pasukannya. Mereka terus berjuang melawan Romawi. Abu Hurairah memberi semangat kepada para tentara dan berkata, ”Berlombalah kalian mengejar para bidadari surga dan untuk bertemu Rabb kalian di surga yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya Rabb kalian sangat cinta kepada kalian dalam situasi dan kondisi seperti ini. Ingatlah bahwa orang-orang yang bersabar memiliki kemuliaan yang khusus.”

Akhirnya, dengan pertolongan Allah perang yang dahsyat ini dimenangkan oleh pasukan Muslim. Tazariq, saudara Heraklius yang menjadi panglima tertinggi pasukan Romawi, terbunuh dalam peperangan ini.

Kaisar Romawi, Heraklius, ketika berada di Anthakiyah bertanya kepada para pasukannya apa yang menyebabkan mereka kalah perang, padahal jumlah mereka lebih banyak berlipat ganda dari jumlah pasukan kaum Muslim. Maka salah seorang yang dituakan dari mereka menjawab,”kami kalah disebabkan mereka shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mengajak kepada perbuatan ma’ruf, mencegah dari perbuatan mungkar dan saling jujur sesama mereka. Sementara kita gemar minum khamr, berzina, mengerjakan segala yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kezhaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang diridhai Allah dan kita selalu berbuat kerusakan di bumi.” Mendengar jawaban itu Heraklius berkata, ”engkau telah berkata benar.”

”Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya. Sebaliknya Dia pasti akan menghinakan orang-orang yang kafir terhadapNya. Sesungguhnya kalian tidak akan dikalahkan karena jumlah kalian yang sedikit, tetapi kalian akan dikalahkan disebabkan dosa-dosa kalian…”
(Abu Bakar ash-Siddiq, dalam suratnya menjelang Perang Yarmuk)

Umar bin al Khatthab ra pernah menulis surat kepada panglima perang Sa`ad bin Abi Waqqash di Iraq : “Janganlah kalian mengatakan sesungguhnya musuh kita lebih jelek dari kita maka sekali-kali tidak akan berkuasa atas kita, kadang-kadang bisa jadi dikuasakan atas satu qaum seseorang yang lebih jelek dari mereka, sebagaimana dikuasakan atas bani Israil kuffarul majuusi takkala mereka telah melakukan ma`aashiy (banyak maksiat), mintalah pertolongan kepada Allah atas diri diri kalian, sebagaimana kalian minta pertolongan kepada-Nya dari musuh kalian.”

Sumber: Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan-Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin (terj.). Jakarta: Darul Haq. 2004.
Copy paste dari facebook tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: