Dwi Widya's


Saat Pembuktian dalam Banyaknya (Fatamorgana) Ruang-Ruang Investasi

Posted in Hikmah oleh Dwi Widya pada Oktober 24, 2009

Seorang saudara yng sangat kucintai pernah berkata padaku… ”kita bakalan pusing mikirin masalah2 atau realita di kampus, kalau kita nggak bergerak alias mengkongkritkan solusinya”…that’s right, isn’t it?

Mendengar musik disco, rapp, atau yang paling minim, pop…pastinya nggak masuk dalam agenda dan kebiasaan kita bukan? Bagaimana kalau mau tidak mau itu jadi agenda kita?

Melihat dan mendengar orang di dekat kita mengeluarkan caci maki dan sumpah serapah, tentu sangat jarang ku jumpai selama aku hidup 6 tahun terakhir ini

Perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, sekitar 2 jam. Naik angkot 1x, kemuian bis besar lewat tol, terakhir naik angkot lagi. Untuk sampai rumah harus dtambah jalan kaki sekitar 300m. Biasanya keluar kantor 17.30. Sholat maghrib di suatu mushola, kemudian naik bis dst. Sampai rumah kurang lebih jam 20.00.

Jika saja ku mau memenangkan ego dan beeerratus apologi yang bisa kubuat, pastinya ku hanya punya 2 hari dalam sepekan. Untuk melakukan hal lain selain kerjaan kantor. Itupun harus dikurangi waktu istirahat (katakanlah waktu balas dendam setelah berlelah-lelah dengan rutinitas harian), waktu untuk bersih (nyuci, dll), bantu ortu, dll. Dan aku juga punya sisa waktu pada jam-jam di sela-sela istirahat kantor, atau jam saat aku sudah pulang dari kantor (itupun kalau nggak langsung tepar), atau jam sebelum aku berangkat kerja (dan itu juga kalau ingat bangun malam dan habis subuh nggak tidur lagi).

Ada dua pilihan. Pertama, lakukan sesuai dengan aliran yang mengalir disekelilingku, yang mungkin tidak salah, namun hanya cukup, tidak ada surplus. Kedua, memanfaatkan ruang investasi yang ada, dengan berusaha tidak melewatkan setiap keutamaan yang ada (keutamaan siang dengan ramai dan terangnya, dan keutamaan malam dengan sunyi, gelap dan airmata muhasabah)

”…di antara hamba-hamba kami, lalu ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu bebuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”(35:32)

Suatu hari di perjalanan pulang dengan angkutan umum. Saat nunggu angkot ngetem (menunggu penumpang penuh) Astagfirullah… begitu banyak pembicaraan yang tak enak didengar. Tak sampai hati membiarkan telinga ini menangkap suara-suara itu. Saat itu aku hanya bisa diam. Sesekali menatap si pembicara dengan tatapan rasa tak suka. Dan hatiku hanya bisa mengingkari dan mendoakan. Dan ketika di dalam bis, berharap bisa duduk lebih nyaman.. Ku dengar seorang wanita dewasa berkata ”bang…musiknya yang tadi enak tuh…buat dugem biasanya”…tak lama si wanita mengakhiri kalimatnya, dan musik bernuansa disco dugem pun terdengar sepanjang perjalananku bersama bis itu. Lagi-lagi aku hanya diam, mengingkari, dan berdoa. Kali ini ku sempatkan untuk baca buku sampai sempat tertidur. (suasana di bis AC Mayasari Bhakti sebenarnya sangat nyaman untuk istirahat dan baca buku, bahkan tilawah). Peristiwa seperti itu bukan hanya sesekali ada di dekatku. Pasti ada maksud lain, Allah memperlihatkan fenomena2 itu jelas tak sampai 5 meter di depan mataku, dalam dimensi waktu dan tempat yang sama.

Di kesempatan lain, tak jarang tanpa sengaja (namun masuk dalam skenarionya) bertemu dengan ibu2 atau mbak2 yang enak di ajak ngobrol, kenalan, sampai diskusi. Kadang di angkutan umum, kadang di tempat nunggu bis, di Bank, saat mengantri ATM. Mereka dari berbagai latar belakang, karyawan biasa, eksekutif muda, ibu2 kaya, penjual di warteg. Tak jarang mereka cukup hanif dan menampakan rasa percaya untuk berbicara dengan ku Lagi2 pasti ada maksud lain Allah mempertemukanku dengan mereka dalam waktu yang relatif singkat.

Fenomena2 itu begitu sederhana bukan, namun nyata dan dekat adanya. Kesempatan yang tak sama pada tiap2 kejadian yang menjadi ruang2 investasiku. Kuncinya…apakah aku mau berinvestasi disana…? memupuk investasi kecil2an…yang sangat menjanjikan keuntungannya di masa depan. Jaminannya pun nggak sembarangan.

Kenyataan itu membuat hati ini terusik, namun kenapa belum sanggup membuat raga ini menanggapi usikan itu.

Kalau saja aku berani menegur orang yang mencaci maki orang lain, kalau saja aku dengan percaya diri meminta no HP salah satu dari beberapa wanita yang kutemui atau menawari ibu2 hanif untuk mengaji. Tapi Alhamdulillah, Alah mengizinkan lidah kelu sempat berkata pada yang memaki ”sabar pak…sabar..” dan sempat memberi CP sekretariat DPD PKS dan memberitahu jadwal pengajian tahsin di DPCku pada seorang ibu yang kutemui diBSM yang ternyata beliau simpatisan PeKaeS ^^

Pada ruang yang lain, usikan yang kurasa lebih keras, rasa gundah begitu membuncah ketika kulihat realita dalam skala makro. Mungkin saat itu ’mental penguasa (kampus)’ memacuku diriku untuk merasa ’aku harus berbuat, aku harus ada dalam perubahan ini’. Mungkin lebih tepatnya bermimpi.

Tanpa kusadari betul bahwa itu semua membutuhkan ’kekuatan’. Tanpa ku mau akui…cukupkah is’tiabku menampung semua itu. Secara teori aku masih sangat ingat, pentingnya seseorang memiliki isti’ab internal dan eksternal yang mampu menampung, mengelola, dan memberi solusi untuk banyaknya qodhoya umat. Allah tak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya bukan? Dan seseorang tak kan pernah tau ia mampu atau tidak sebelum ia berusaha dan mencobanya. Berusaha dan mencoba bukan tanpa arah. Namun dengan arah, tujuan yang jelas, analisa dan cara yang baik, dan segala hal yang menjadi perbekalan yang cukup untuk menjawab banyak tantangan.

Dan aku bukanlah daun berserakan, atau batang lidi yang lepas terhambur dari ikatannya apalagi anak domba yang terpisah dari gerombolannya (yang siap diterkam serigala lapar perusak zaman).

Realita makro itupun adalah ruang2 investasi yang diperuntukan untuk para jundullah dan aku ingin menjadi salah satu darinya. Namun jika boleh ku katakan…itu mungkin barulah (fatamorgana) ruang2 investasiku. Yang suatu saat, cepat ataupun lambat dengan izinNya harus siap ku masuki. Dan bukankah ’investasi kecil-kecilan’ tadi menjadi himpunan bagian dari realita makro ini. Subhanallah, Allah yang maha rahman dan rahiin menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan ukurannya.

Semuanya… aku, dia, mereka, dan realita2 itu terus bergerak. Apa yang menjadi kehendakNya akan terjadi. Sunatullah pun pasti akan terlaksana.

Memberikan kontribusi terbaik pada apa yang ada dihadapan kita sekarang, pada apa yang menjadi tanggung jawab kita sekarang, walau tampak kecil di mata manusia. Kaidahnya, utamakan pandangan Allah daripada pandangan manusia.

Jika dihadapanku adalah ayah, ibu, kakak dan adikku, maka jadikan mereka sebagai teman dan keluarga sejati di surga nanti.

Jika di depanku adalah sekumpulan ibu-ibu, maka jadikan dan ajaklah mereka menjadi ibu-ibu yang taat padaNya, menjadi ibu2 yang luar biasa bagi suami, anak2, keluarga, dan tetangganya.

Jika di depanku adalah anak2 TPA, maka jadikan dan ajak mereka menjadi anak2 yang mengenal dan taat pada Rabbnya, berbakti pada orang tuanya, dan bercita-cita mulia

Jika di depanku adalah para pemulung barang bekas, maka jadikan mereka orang yang tetap fakir…fakir ilallah, namun ajak mereka dan diri untuk senantiasa bersyukur, dan jadikan mereka yang semula mustahiq menjadi muzaki.

Dan, jika di depanku adalah seperangkat komponen elektronika yang jelas tak bernyawa dan berakal, maka, jadikan itu semua sebagai peralatan dan ’senjata’ yang mampu mengangkat izzah dien ini dan memenangkanya.

Laa Haula wala Quwwata illa billahil ‘aliyyil Adhim

3 Tanggapan to 'Saat Pembuktian dalam Banyaknya (Fatamorgana) Ruang-Ruang Investasi'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Saat Pembuktian dalam Banyaknya (Fatamorgana) Ruang-Ruang Investasi'.

  1. Lani Sukma said,

    nice,,
    makasih wi,,udah diingatkan lewat tulisan ini,,
    alhamdulillah ga mengalami itudi tempat uk yang baru🙂
    met berjuang wi!!sama-sama berjuang!! :))

  2. rivaekaputra said,

    “berikan konstribusi terbaik dng. apa yg ada dihadapan kita sekarang”

    kyaknya memang seharusnya bgitu…..tapi susah yaaaa…hehe

    • Dwi Widya said,

      🙂 memang seharusnya begitu… memang susah juga….
      Laa haula wala quwwata illa billah. Dimulai dari niat dan motivasi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: