Dwi Widya's


Cinta dan Domba

Posted in Dien oleh Dwi Widya pada November 9, 2009

“…Ibrahim berkata: “ Hai anaku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash Shaffat:102)

Allah telah menurunkan banyak momentum kepada manusia khususnya umat Islam. Allah memberikan keistimewaan kepada pertengahan malam atau sepertiga malam sebagai momentum harian. Sama halnya dengan ari Jum’at sebagai momentum pekanan dan dua hari raya sebagai momentum tahunan. Tentu saja makna momentum-momentum itu bukan hanya sesaat atau hanya pada detik-detik momen itu, tetapi harus menjadi jiwa yang berjalan menyusuri detik-detik yang lain.

Demikian halnya dengan momentum Iedul Adha atau Iedul Qurban. Semangat berqurban (tadhiyyah) pada momentum itu harus menjiwai semangat berkorban pada hari-hari lain sepanjang tahun. Dengan terulangnya momentum itulah semangat atau ruh yang ada di dalamnya terus dipompa sehingga tetap hidup dan bahkan semakin subur.

Mengapa Rela berkorban?
Jawabnya adalah karena adanya cinta. Jangankan manusia, hewanpun ketika rasa cintanya tumbuh maka jiwa pengorbanannya akan tumbuh. Seekor induk gajah akan berusaha menyelamatkan anaknya karena adanya rasa cinta pada anaknya. Semakin besar kecintaan terhadap sesuatu, maka akan semakin besar pengorbanan yang dipersembahkan bagi yang dicintainya.

Rasa cinta itulah yang akan menanamkan keyakinan bahwa pengorbanannya kepada sesuatu niscaya tidak akan sia-sia. Ketika cinta menumbuhkan jiwa pengorbanan, maka akan tumbuh ketaatan dan kesetiaan (loyalitas). Semakin tinggi loyalitas seseorang maka semakin tinggi jiwa pengorbanan yang ia berikan kepada yang dicintainya.

Seorang mukmin sejati memberikan loyalitas (al wala) tertingginya kepada Allah, sehingga porsi terbesar cintanya ia berikan pada Allah..
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (Al Baqarah:165)

Jadi pada dasarnya setiap makhluk itu memiliki jiwa pengorbanan karena mereka dikaruniai rasa cinta. Perubahan prioritas cinta itulah yang menyebabkan perubahan tingkat pengorbanan. Ketika cinta dunia mendominasinya, maka pengorbanan untuk dunia pasti akan mendominasinya. Demikian pula ketika cinta akhirat yang mendominasi. Balasannya pun sesuai dengan masing-masing kecintaan dan pengorbanan yang dipersembahkan.
“Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pula kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (Ali Imran:145)

Cara Pandang Ibrahim as (tentang pembesaran dan penyederhanaan dunia)

Apabila kita menelaah peristiwa yang terjdi pada Nabi Ibrahim dan Ismail, maka akan timbul pertanyaan, mengapa seorang ayah seperti Ibrahim rela mengorbankan anak yang dicintainya? Dan mengapa pula Ismail ketika ditanya penapatnya untuk disembelih demikian menurut? Jawaban itu bisa kita simpulkan setelah kita memahami cara pandang mereka.
Kesiapan mempersembahkan sesuatu yang terbaik berbanding lurus dengan ketaatan dan loyalitas. Loyalitas ada karena rasa tsiqoh/percaya/yakin, dan ketsiqohan itu muncul karena ada cinta. Sebesar apa porsi cinta yang diberikan itulah bagaimana maratibul mahabah yang kita terapkan dalam nilai diri.
Seseorang yang memandang materi yang dimiliki dengan visi pembesaran cenderung bersikap sayang dan cinta yang berlebih pada materi yang menjdi milkinya, hingga berujung pada virus bakhil. Apalagi jika ia mendapatkan melalui kerja keras, pengorbanan tenaga , fikiran, dan waktu, akan begitu besarlah sense of belonging terhadap materi tersebut.
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran:14)

Sedangkan bagi orang-orang beriman, terjadi suatu penyederhanaan pandangan terhadap materi dunia. Sebesar apapun materi yang ada, seringkali dipandang kecil. Sikap ini sering memunculkan pertanyaan bagi orang-orang awam, keheranan juga kekaguman dan pandangan aneh.

Apa yang ada dalam jiwa Ibrahim dan Ismail

Keberanian Ibrahim untuk menyembelih Ismail, pun kesediaan Ismail terjadi sebagai buah tarbiyyah robbaniyah yang menumbuhkan ketaatan dan ketundukan kepada Allah. PerintahNya sebagai kepentingan utama dibandingan kepentingan apapun, sehingga kepentingan Ibrahim akan anak gugur engan turunnya kepentingan Allah. Demikian juga dengan visi Ismail, kepentingannya untuk menghirup udara dunia ia gugurkan demi memenuhi kepentingan utamanya. Gambaran visi rabbaniyah yang begitu indah.

Berkorban atau menjadi korban

Ketika Allah hendak menguji hamba-hambaNya, maka Dia turunkan ujian kepada mereka berupa perintah untuk berkorban di jalanNya. Hal ini telah berlaku sejak Allah memilih antara Habil dan Qobil, dua anak nabi Adam as.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah satu orang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (qabil). Ia berkata (Qabil) : ‘Aku pasti membunuhmu !’, berkata Habil :’Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa’ (Al Maidah :27)

Seseorang yang sadar dirinya sedang diuji, maka pengorbanan apapun akan dilakukan agar dapat lulus dari ujian tersebut. Mempersembahkan yang terbaik. Sedangkan bagi mereka yang tidak sadar, ujan tersebut tak akan dipandang bahkan diremehkan dan enggan melakukan pengorbanan, kalaupun ia lakukan, maka dia lakukan dengan malas.

Bagi orang-orang yang siap diuji oleh allah dengan berbagai pengorbanan, maka allah akan menurunkan nikmat baginya. Inilah golongan orang-orang yan berkorban di jalan Allah. Sedangkan orang-orang yang enggan berkorban di jalan Allah karena sifat tamak dan kikir serta ingkar kepada Allah, maka Allah akan menurunkan azab kepada mereka, dan merekalah yang akan menjadi korban dari azab Allah itu (Ibrahim :7)

Allah berkehendak untuk terus menguji hambaNya. Barang siapa yang rela diuji dengan perintah berkorban dan mejalankannya, maka Allah akan menaikan derajatnya. Tetapi barangsiapa yang tidak rela diuji dengan berkorban dan mengabaikannya, maka Allah bisa mendatangkan ujian dalam bentuk yang lain yakni bala/bencana yang dapat menimbulkan korban yang lebih besar.

” Aku ridha Allah sebagai Rabb dan dengan Islam sebagai sistem hidup, dan dengan Muhammad sebagai nabi dan rasul”Segala sesuatu itu miik Allah, kalau kita rela memberikannya kembali maka Allah akan membalasnya denga lebih baik. Namun bagi kita yang tidak rela memberikannya maka Allah berhak untuk mengambilnya dengan berbagai cara. Mana yang kita pilih, berkorban atau menjadi korban?

”Sesungguhnya kami telah memberikan padamua nikmat yang banya. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah…” (Al Kautsar:1-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: