Dwi Widya's


Kuncup Mujahidah

Posted in Hikmah oleh Dwi Widya pada November 19, 2009

Kami senantiasa berhimpun dalam satu forum yang biasa ku sebut taman cinta. Ada dua taman cinta yang kini telah menjadi lukisan dalam memoriku. Mereka adalah kuncup-kuncup mujahidah (begitu biasa kusebut dalam tiap sms remainder, motivasi, atau undangan), yang menjadi pengunjung taman itu. Sekarang mereka bukan lagi kuncup, mereka adalah bunga mujahidah yang mengharumkan taman-taman cinta yang lain dan sudut perjuangan dalam ruang lingkupnya masing-masing. Namun, mereka tetaplah mutiaraku.

Ahad pagi, beberapa buku sudah kusiapkan sejak malam harinya, lembar-lembar penunjang, spidol, juga sudah siap. Tak lupa sedikit cemilan dan teh hangat kuhidangkan untuk menegakan tulang punggung dan merekahkan senyum mereka, karena tanpa itu ada saja yang nyeletuk “mbak nggak ada logika nih tanpa logistik”. Every sunday morning, the best smile and best performance, special for kuncup mujahidahku.

Sejak semalam sampai setengan jam sebelum gerbang taman cinta dibuka, tak jarang di Hud-hud berkicau “tut tut tut tut”, bisa ditebak, “mbak afwan ijin telat ya…10 menit aja” atau “afwan mbak, njemput si Fulanah dulu ya, jadi kayanya telat”, ada juga yang dengan rasa bersalah “mbak, siap di iqob. Ijin telat 30 menit, ngurus acara di fakultas dulu, nggak ada yang lain”. Bagi kami, itu adalah salah satu fragmen yang akan menjadi pelajaran berharga akan nilai waktu, komitmen, dan kepercayaan.

Adanya mereka adalah penyemangat, pengingat, juga pelipur, saat merasa lelah berjalan dan jenuh berfikir.
Saat merasa kecewa dengan dinamika yang ada, justru kecewa itu adalah cambukan yang membuatku berfikir, kesalahan apa yang kulakukan hingga mereka tak seperti yang seharusnya? Bisa jadi mereka lebih kecewa.
Adanya mereka justru membuatku menerima lebih, dengan sedikit memberi.
Sungguh, mendidik berarti membuatku terdidik; melatih menjadikanku terlatih; mendewasakan membuatku terdewasakan; mengingatkan berarti aku jadi teringatkan.
Dan, di akhir kebersamaan kami…”Mbak, You will always be our Murobbi”, dengan senyum haru ku jawab “of course dear…dan kalian akan selalu menjadi mutiaraku”

Jika cinta yang ada karena kecintaan padaNya, semoga rindu yang ada juga karena kerinduan padaNya
^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: