Dwi Widya's


Asma binti Yazid Sang Orator Pemberani

Posted in Mar'ah Shalihah oleh Dwi Widya pada November 28, 2009

MUJAHIDAH
Ia berani terjun ke medan perang demi menegakkan agama Allah SWT.


Sejarah Islam mencatat nama Asma binti Yazid dengan tinta emas. Ia dikenang sebagai salah seorang Mujahidah agung yang pernah dimiliki peradaban Islam. Betapa tidak. Asma merupakanahli hadis yang mulia, Ia juga seorang Muslimah yang taat, serta dikenal sebagai ahli pidato. Tak heran jika Asma ditabalkan sebagai ”orator wanita” di zaman Rasulullah SAW.

Sejatinya, ia bernama lengkap Asma binti Yazid bin Sakan bin Rafi bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Harits. Asma bersal dari suku Aus al-Asyhaliyah. Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mustafa Abu Nashr Asy-Syibli dalam bukunya berjudul Wanita Teladan, menggambarkan Asma dengan begitu banyak keistimewaan.

Menurut Mahmud dan Mustafa, Asma adalah seorang Muslimah yang halus perasaan dan budi bahasanya. ”Ia adalah wanita pemberani,” tutur Mahmud. Asma adalah seorang Muslimah yang berani mengeluarkan pendapat dan tidak mau menerima penghinaan. Ia berani terjun ke sejumlah medan perang demi menegakkan agama Allah SWT.

Asma tercatat sebagai Mujahidah pertama yang mampu mengalahkan dan membunuh sembilan tentara Romawi di medan jihad. Asma ikut serta dalam perang Yarmuk dengan tugas membagi air minum dan merawat mujahid yang terluka. Ia pun berhasil menyelamatkan diri dari serangan musuh danl membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah.

”Teguh pendiriannya dan pejuang yang gagah berani, dia adalah contoh Muslimah pelopor dalam berbagai bidang,” tutur Mahmud. Keislaman Asma dimulai ketika ia mendatangi Rasululah SAW untuk berbai’at. Nabi Muhammad SAW membai’at para wanita setelah mendapat perintah dari Allah SWT dalam surat al-Mumtahanah ayat 12.

”Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Asma berbai’at kepada nabi dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Dalam riwayat kitab-kitab sirah dikisahkan, saat melakukan bai’at Asma mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi SAW bersabda : “Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma, tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?”

Tanpa ragu dan tanpa komentar Asma pun mengikuti perintah Rasululah SAW, dengan melepaskan dan meletakkan kedua gelangnya di hadapan Rasulullah SAW. Ia begitu taat menjalankan perintah agama. Asma selalu aktif mendengarkan setiap hadis Rasulullah SAW yang mulia. Namun, ia adalah sosok Muslimah yang tak malu bertanya dan kritis. Asma kerap bertanya tentang persoalan-persoalan agama yang belum dipahaminya. Ia mewakili kaum Muslimah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW tentang tata cara thaharah (bersuci) bagi wanita yang selesai haid.

Asma adalah sosok pribadi yang kuat. Ia tidak malu menanyakan sesuatu yang haq (benar). Ibnu Abdil Barr melukiskan sosok Asma dengan ungkapan, ”Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus agamanya”. Ia selalu dipercaya oleh kaum Muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah SAW tentang persoalan–persoalan yang mereka hadapi.

Pada suatu ketika Asma mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita Muslimah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku.

Sesungguhnya Allah SWT mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membai’atmu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka.

kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah menoleh kepada para sahabat dan bersabda,” “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Kembalilah wahai Asma dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.

Pahlawan Perang Yarmuk itu tutup usia pada akhir tahun 30 Hijriyah. Semoga jejak perjuangannya selalu dijadikan teladan para Muslimah.

heri ruslan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s