Dwi Widya's


Syukur (3)

Posted in Dien oleh Dwi Widya pada Desember 1, 2009

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

APA YANG HARUS DISYUKURI?
Pada dasarnya segala nikmat yang diperoleh manusia harus
disyukurinya. Nikmat diartikan oleh sementara ulama sebagai
“segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda”. Adakah manusia
memiliki sesuatu sebagai modal? Jawabannya, “Tidak”. Bukankah
hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah?
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,
sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
disebut? (QS Al-Insan [76]: 1).
Nikmat Allah demikian berlimpah ruah, sehingga Al-Quran
menyatakan,
Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya
kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:
34).
Al-Biqa’i dalam tafsirnya terhadap surat Al-Fatihah
mengemukakan bahwa “al-hamdulillah” dalam surat Al-Fatihah
menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati oleh
makhluk, khususnya manusia. Itulah sebabnya –tulisnya lebih
jauh– empat surat lain yang juga dimulai dengan
al-hamdulillah masing-masing menggambarkan kelompok nikmat
Tuhan, sekaligus merupakan perincian dari kandungan nikmat
yang dicakup oleh kalimat al-hamdulillah dalam surat
Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah induk Al-Quran dan
kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain.
Keempat surat yang dimaksud adalah:
1. Al-An’am (surat ke-6) yang dimulai dengan,
Segala puji bagi Allah Yang te1ah menciptakan langit dan
bumi, dan mengadakan gelap dan terang.
Ayat ini mengisyaratkan nikmat wujud di dunia ini dengan
segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di darat, laut,
maupun udara, serta gelap dan terang.
2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan,
Segala puji bagi Allah yang te1ah menurunkan kepada
hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat
kebengkokan (kekurangan) di dalamnya.
Di sini diisyaratkan nikmat-nikmat pemeliharaan Tuhan yang
dianugerahkannya secara aktual di dunia ini. Disebut pula
nikmat-Nya yang terbesar yaitu kehadiran Al-Quran di
tengah-tengah umat manusia, untuk “mewakili” nikmat-nikmat
pemeliharaan lainnya.
3. Saba’ (surat ke-34), yang dimulai dengan,
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula
segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana
lagi Maha Mengetabui.
Ayat ini mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni
kehidupan baru setelah mengalami kematian di dunia, di mana
dengan kehadirannya di sana manusia dapat memperoleh
kenikmatan abadi.
4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan,
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang
menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus
berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang
mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan
empat.
Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang akan
dianugerahkan Allah kelak setelah mengalami hidup baru di
akhirat.
Setiap rincian yang terdapat dalam keempat kelompok nikmat
yang dicakup oleh keempat surat di atas, menuntut syukur
hamba-Nya baik dalam bentuk ucapan al-hamdulillah, maupun
pengakuan secara tulus dari lubuk hati, serta mengamalkan
perbuatan yang diridhai-Nya.

SYUKUR
Di atas dikemukakan secara global nikmat-nikmat-Nya yang
mengharuskan adanya syukur. Dalam beberapa ayat lainnya
disebut sekian banyak nikmat secara eksplisit, antara lain:
1. Kehidupan dan kematian
Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat)
Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan,
kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS
A1Baqarah [2]: 28).
2. Hidayat Allah
Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah
[2]: 185).
3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya.
Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu
bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)
4. Pancaindera dan akal.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu
pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu
bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).
5. Rezeki
Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu
bersyukur (QS Al-Anfal [8]: 26).
6. Sarana dan prasarana antara lain
Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu)
agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar
darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan
yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan
karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]:
14) .
7. Kemerdekaan
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai
kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia
mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu
orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir’aun)
(QS Al-Maidah [5]: 20)
Masih banyak lagi nikmat-nikmat lain yang secara eksplisit
disebut oleh Al-Quran.
Dalam surat Ar-Rahman (surat ke-55), Al-Quran membicarakan
aneka nikmat Allah dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan
akhirat kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan.
Quran mengulangi satu pertanyaan dengan redaksi yang sama
yaitu,
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?
Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali.
Sementara ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya
untuk sampai pada suatu kesimpulan.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan dalam
kehidupan di dunia ini, antara lain nikmat pengajaran
Al-Quran, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari,
lautan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman siksa neraka di
akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari
pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat
Tuhan.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang
diperoleh dalam surga pertama.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat-Nya pada
surga kedua.
Dari hasil pengelompokan demikian, para ulama menyusun semacam
“rumus”, yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah
yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama
–syukur seperti makna yang dikemukakan di atas– maka ia akan
selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman
dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih
pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga
pertama maupun surga kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi)
maupun kenikmatan ukhrawi.

WAKTU DAN TEMPAT BERSYUKUR
Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula)
segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi
Maha Mengetahui (QS Saba’ [34]: l).
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. harus disyukuri, baik
dalam kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Salah
satu ucapan syukur di akhirat adalah dari mereka yang masuk
surga yang berkata,
Al-hamdulillah –segala puji bagi Allah– yang memberi
petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak
memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak
memberikan kami petunjuk (QS Al-A’raf [7]: 43).
Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan kapan dan di mana
saja di dunia dan di akhirat.
Dalam konteks syukur dalam kehidupan dunia ini, A1-Quran
menegaskan bahwa Allah Swt. menjadikan malam silih berganti
dengan siang, agar manusia dapat menggunakan waktu tersebut
untuk merenung dan bersyukur, “Dia yang menjadikan malam dan
siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS A1-Furqan [25]:
62).
Dalam surat Ar-Rum (30): 17-18 Allah memerintahkan,
Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di
petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan
bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di
waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu
berada di waktu zuhur.
Segala aktivitas manusia –siang dan malam– hendaknya
merupakan manifestasi dari syukurnya. Syukur dengan 1idah
dituntut saat seseorang merasakan adanya nikmat Ilahi. Itu
sebabnya Nabi Saw. tidak jemu-jemunya mengucapkan,
“Alhamdulillah” pada setiap situasi dan kondisi.
Saat bangun tidur beliau mengucapkan,
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan
(membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami
dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan.
Atau membaca,
Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku
ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku
mengingat-Nya.
Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca,
Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah
pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu
segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan
bumi dan segala isinya …
Ketika berpakaian beliau membaca,
Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan
(pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa
kemampuan dan kekuatan (dari diriku).
Sesudah makan beliau mengucapkan,
Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan
memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim.
Ketika akan tidur, beliau berdoa,
Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah,
bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi.
Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam berbagai situasi
dan kondisi.
Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari
saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat
dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak
membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam
jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia mendapat cobaan
atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan,
Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji
walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.
Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar
bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar mempakan
malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah sedemikian
banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti
dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.
Di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya, bahwa
pasti ada hikmah di belakang cobaan itu, karena Semua
perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji.

SIAPA YANG DISYUKURI ALLAH?
Al-Quran juga berbicara menyangkut siapa dan bagaimana upaya
yang harus dilakukan sehingga wajar disyukuri. Dua kali kata
masykur dalam arti yang disyukuri terulang dalam Al-Quran.
Pertama adalah,
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami
kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami
tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya
dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka
mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri
(dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan
baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yanp itu
(yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami
berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan
Tuhanmu tidak dapat dihalangi (QS Al-Isra’ [17]: 18-20).
Kedua adalah:
Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu
adalah disyukuri (QS Al-Insan [76]: 22).
Isyarat “ini” dalam ayat di atas adalah berbagai kenikmatan
surgawi yang dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat
12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan).
Surat Al-Isra’ ayat 17-20 berbicara tentang dua macam usaha
yang lahir dari dua macam visi manusia. Ada yang visinya
terbatas pada “kehidupan sekarang”, yakni selama hidup di
dunia ini, tidak memandang jauh ke depan. “Kehidupan sekarang”
diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya, boleh jadi
juga “sekarang” berarti masa hidupnya di dunia yang
mengantarkannya bervisi hanya puluhan tahun. Ayat di atas
menjanjikan bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses
sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah. Tetapi
setelah itu mereka akan merasa jenuh dan mandek, karena
keterbatasan visi tidak lagi mendorongnya untuk berkreasi.
Nah, ketika itulah lahir rutinitas yang pada akhirnya
melahirkan kehancuran. Hakikat ini bisa terjadi pada tingkat
perorangan atau masyarakat. Kejenuhan dengan segala dampak
negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat
secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme –setelah
mereka mencapai sukses duniawi– merupakan bukti nyata dari
kebenaran hakikat yang diungkapkan A1-Quran di atas. Tetapi
jika pandangan kita jauh ke depan, visi seseorang atau
masyarakat melampaui kehidupan dunianya, maka ia tidak pernah
akan berhenti-bagai seseorang yang menggantungkan cita-citanya
melampaui ketinggian bintang. Ketika itu dia akan terus
berusaha dan berkreasi, sehingga tidak pernah merasakan
kejenuhan, karena di balik satu sukses masih dapat diraih
sukses berikutnya. Memang Allah menjajikan untuk terus-menerus
dan sementara menambah petunjuk-Nya bagi mereka yang telah
mendapat petunjuk.
Dan Allah sementara menambah petunjuk-Nya bagi
orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Maryam [19]: 76).
Orang yang demikian itulah yang semua usahanya disyukuri
Allah. Mereka yang disyukuri itu akan memperoleh surga
sebagaimana dilukiskan oleh kata masykur pada ayat kedua yang
menggunakan kata ini, yakni surat Al-Insan ayat 22.
***
Demikian sekelumit uraian Al-Quran tentang syukur. Kalaulah
kita tidak mampu untuk masuk dalam kelompok minoritas
–orang-orang yang pandai bersyukur (atau dalam istilah
Al-Quran asy-syakirun, yakni orang-orang yang telah mendarah
daging dalam dirinya hakikat syukur dalam ketiga sisinya:
hati, lidah, dan perbuatan)– maka paling tidak kita tetap
harus berusaha sekuat kemampuan untuk menjadi orang yang
melakukan syukur –atau dalam istilah Al-Quran yasykurun–
betapapun kecilnya syukur itu. Karena seperti bunyi sebuah
kaidah keagamaan,
Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan
ditinggalkan sama sekali.

Sumber: http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur2.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: