Dwi Widya's


Antusiasme (Ukasah) Merespon Kebaikan

Posted in Hikmah oleh Dwi Widya pada Desember 29, 2009

Salah satu cara untuk meningkatkan kembali semangat kita dalam bergerak adalah dengan menapaki jejak para sahabat. Ingatkah kita akan seorang sahabat bernama Ukasah? Ya, dia yang pada saat-saat terakhir kehidupan Rasulullah mengatakan bahwa ia pernah disakiti rasul dan ingin membalas dengan mencambuknya. Namun yang terjadi adalah Ukasah memeluk erat dan menciumi punggung rasulullah sambil menangis. Hingga kemudian rasulullah berkata “Ukasah, apabila Allah mengizinkan, kamu akan masuk surga bersamaku”. Ukasah, salah satu sahabat yang mendapatkan jaminan luar biasa langsung dari Rasulullah, semangatnya patut diteladani sebagai modal kita menapaki jalan kebaikan.

Suatu hari Rasulullah bangun tidur dan bercerita bahwa ada sebanyak 70.000 umatnya akan masuk surga Allah tanpa dihisab. Ukasah mendengar cerita tersebut. Ukasah kemudian bertanya langsung kepada Rasulullah, “Apakah aku salah satunya?”. Akhirnya Rasulullah kembali tidur untuk memperjelas mimpinya kembali. Dan setelah bangun kembali, rasulpun menjawab “Engkau bersama mereka”. Mendengar hal yang terjadi pada Ukasah, maka para sahabat yang lain satu per satu bertanya kepada Rasul. “Bagaimana denganku?”. Rasulullah menjawab “Kamu telah ketinggalan dari Ukasah”.
Dari situlah terlihat Ukasah sebagai sosok sahabat Rasulullah yang memiliki antusiasme tinggi dalam merespon kebaikan.

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” (Al Anfal:24)

Ayat tersebut menunjukan suatu kewajiban untuk bersegera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena hal itu merupakan bagian dari kehidupan seorang Muslim.

Terkadang kita bisa menjadi orang yang begitu cepat merespon sesuatu hal, namun terkadang juga tidak. Timbul keraguan bahkan keengganan dan rasa menyepelekan, sekalipun hal yang datang adalah suatu hal yang kita tahu itu wajib dan berupa kebaikan.

Pada penggalan ayat di atas, “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya…”. Hikmah dari penggalan ayat tersebut adalah peringatan besar kepada kaum Mukminin bahwa bilamana mereka diberi kesempatan untuk berbuat baik, maka hendaknya menggunakannya sebelum kesempatan itu luput, apalagi bila ia merupakan dakwah dari Allah dan Rasul-Nya, sebab Allah Maha Mampu untuk membatasi antara manusia dan apa yang diinginkannya, antara seseorang dan hatinya, dengan membolak-balikkan hati dan mengarahkannya ke arah yang lain sehingga ia tidak menyukai kebaikan dan suka kepada keburukan.

Mari kita ingat kembali kisah pada suatu malam di medan Ahzab. Atas kehendak Allah, malam itu menjadi malam yang mencekam bagi para sahabat, tentara perang Khandak. Cuaca dingin luar biasa hingga membuat para tentara Allah merasakan lapar yang amat sangat, hingga tubuh mereka tak mampu beranjak dari kulit bumi. Namun pada saat itulah rasulullah menyerukan suatu kebaikan. Rasul memerintahkan siapa diantara tentara-tentara tersebut yang bersedia menjadi mata-mata. Namun aneh, tak terlihat antusiasme para sahabat sebagaimana mereka seringkali diperlihatkan pada setiap instruksi rasul, sampai-sampai rasulullah mengulang-ulang instruksinya. Hingga pada akhirnya rasulullah menunjuk Hudzaifah untuk pergi mencari informasi dari pihak musuh. Sampai pada titik inilah kemudian konteks ketaatan muncul, dalam kondisi ringan ataupun berat.

Banyak jejak yang mengisahkan antusiasme para jundullah dalam kebaikan. Pada situasi dan kondisinya masing-masing pun tentu ada tantangannya tersendiri. Saat ini, kebaikan yang ada didekat masing-masing kita hadir dalam berbagai rupa. Bahkan bukan tak jarang kemaksiatan hadir dalam rupa yang nampak elok di mata kita, dan berlaku justru berlaku sebaliknya untuk kebaikan. Jika sudah seperti itu, maka bagaimana mungkin bisa muncul antusiasme tinggi untuk merespon kebaikan yang hadir dalam rupa yang tak enak dipandang mata. Itu jika kita menilik kebaikan dari segi rupa. Nah jika kita lihat dari sisi level atau kadarnya. Kata seseorang kebaikan kadang menyelinap di antara ruang-ruang gerak kita, kadang tak disadari, atau disadari namun dirasa tak seberapa pentinglah. Akhinya menyepelekan untuk menyambutnya.

Diperlukan beberapa modal agar antusiasme itu ada pada setiap diri.
1. Pemahaman yang benar tentang kebaikan dan pemahaman bahwa dirinya harus senantiasa bersama kebaikan. Pemahaman yang benar tentang kebaikan yang akan membantu untuk mengidentifikasi setiap saat kebaikan itu hadir. Dan pemahaman bahwa dirinya harus senantiasa bersaa kebaikan yang akan mendorong diri untuk selalu mencari-cari kebaikan, menciptakan kebaikan, dan berjalan bersama kebaikan.
2. Keinginan untuk mewariskan kebaikan pada diri seseorang. Pewarisan disini bukan berari bahwa pahala dan keimanan dapat terwariskan secara otomatis. Namun pewarisan dengan keteladanan, kebaikan yang dilakukan…pewarisan dengan proses tarbiyah. Pada poin ini teringat suatu pengalaman yang sampai saat ini menjadi salah satu nilai yang tetap dipegang. Dulu, seorang guru senantiasa mengingatkan di kala kami memegang suatu amanah kepemimpinan. “Jika anti ingin ‘adik-adik’ anti baik, maka anti dulu yang harus baik, jika anti ingin staf-staf anti bersemangat dan ontime datang rapat maka anti dulu yang mesti membakar semangat itu dan datang lebih awal saat rapat”. Juga pada saat kami mengeluh ketika ‘adik-adik’ kami ada yang ber’masalah’, atau kami putus asa dengan dinamika organisasi. Justru pertanyaan dibalas dengan pertanyaan “Bagaimana tilawah anti setiap harinya?”, dan lain sebagainya. Sampai di sini, tarbiyah mentarbiyah menjadi keniscayaan ketika kita ingin kebaikan itu ada pada diri seseorang.
3. Penuh kesabaran dan semangat konsistensi Kesabaran dan semangat, sekilas nampak tak bisa bersanding. Kesabaran yang identik dengan kediaman dan semangat yang identik dengan keagresifan. Tentu tak sesempit itu. Kesabaran agar dapat tetap teguh dalam kebaikan akan ada jika setiap diri memiliki semangat keistiqomahan dalam memenuhi panggilan Allah dan rasulNya.

Lebih dari seorang periwayat meriwayatkan dari Nabi SAW, sabda beliau,
“Allaahumma Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Ala Diinik (Ya Allah, Wahai Yang membolak-balikkan setiap hati, mantapkanlah hatiku di atas dien-Mu).”

Dalam riwayat Muslim dinyatakan,
“Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubana Ila Thaa’atik
(Ya Allah, Yang merubah setiap hati, rubahlan setiap hati kami kepada berbuat ta’at kepada-Mu).”

Semoga antusiasme tinggi dalam merespon kebaikan selalu ada dalam diri kita semua. Fastabiqul Khairat. Waallau a’lam bishawab

*mengabadikan sebuah tausiyah dalam note dan.. share it to you^^
Sumber: Majalah Tarbiyah (edisi lamaaa)
Hikmah dan Mutiara Hadits (www.alshofwah.or.id)
Catatan2 pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: