Dwi Widya's


Dudukanlah, sampai terlihat keindahannya

Posted in Dien,Hikmah oleh Dwi Widya pada Januari 31, 2010

Hikmah hari ini teringatkan kembali bahwa kita perlu mendudukkan segala sesuatu itu pada batas-batas normalnya. Sehingga tidak cenderung berlebihan dan bahkan menjerumuskan. Keywordnya: batas-batas, tidak berlebihan. Mungkin itulah kenapa perlu ada tasamuh (toleransi).

Misal bagaimana menyikapi hal-hal yang mubah, namun ada sisi-sisi negatif dalam tersebut jika dilakukan tanpa kontrol dan niat yang benar, seperti halnya nonton film, mendengarkan musik, berselancar di dunia maya (fb-an, dll), bahkan makan, tidur, bergurau, dll. Fitrah dan tabiat manusia salah satunya adalah menyukai hal-hal yang mubah. Sayapun menyukai hal-hal tersebut, film yang bagus, lagu-lagu yang memotivasi, makanan enak, dll. Berikut ada beberapa kutipan terkait hal tersebut

***
Dasar pertama yang ditetapkan Islam, ialah: bahawa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali kerana ada nas yang sah dan tegas dari syari’ (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, iaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nas yang sah –misalnya kerana ada sebahagian Hadis lemah– atau tidak ada nas yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.

Ulama-ulama Islam mendasarkan ketetapannya, bahawa segala sesuatu asalnya mubah, seperti tersebut di atas, dengan dalil ayat-ayat al-Quran yang antara lain:

“Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya.” (al-Baqarah: 29)

“(Allah) telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya daripadaNya.” (al-Jatsiyah: 13)

“Belum tahukah kamu, bahawa sesungguhnya Allah telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi; dan Ia telah sempurnakan buat kamu nikmat-nikmatNya yang nampak mahupun yang tidak nampak.” (Luqman: 20)

Allah tidak akan membuat segala-galanya ini yang diserahkan kepada manusia dan dikurniakannya, kemudian Dia sendiri mengharamkannya. Kalau tidak begitu, buat apa Ia jadikan, Dia serahkan kepada manusia dan Dia kurniakannya?

Beberapa hal yang Allah haramkan itu, justeru kerana ada sebab dan hikmah
***

Jadi, kesimpulan saya…kita mesti pintar-pintar dan bijak bersikap. Agar tetap pada jalur yang benar. Setidaknya ketika kita sudah tahu hukumnya, maka ada itikad dan upaya untuk mencapainya. Bagaimanakah sikap yang bijak itu, berikut adalah satu referensi yang berhasil didapatkan…

***
Sesuatu disebut mubah adalah jika ia boleh dikerjakan atau ditinggalkan. Semua urusan keduniaan hukum asalnya adalah mubah, sampai ada dalil yang melarang atau mengharamkannya. Namun demikian, seorang muslim harus memiliki sikap yang benar dalam mengkonsumsi hal-hal yang mubah. Antara lain sebagai berikut:

1. Berniat ibadah dalam mengkonsumsinya, sehingga mendapat pahala dari Allah swt., sebagaimana sabda Rasulullah saw.
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ . رواه مسلم
Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. (HR Bukhari Muslim).

2. Mendahulukan yang terpenting kemudian yang penting, atau mendahulukan yang mendesak daripada yang kurang mendesak. Memang, kebutuhan manusia sangat banyak sedangkan kemampuannya untuk memenuhi terbatas, karenanya ia harus selektif dan memiliki skala prioritas yang jelas.

3. Meninggalkan hal-hal mubah yang dapat mengantarkan kepada yang haram. Rasulullah saw. bersabda,
لاَ يَبْلُغُ أَحَدُكُمْ دَرَجَةَ التَّقْوَى حَتَّى يَدَعَ مَالَيْسَ بِهِ بَأْسٌ إِلىَ مَا بِهِ بَأْسٌ . رواه الترمذي
Tidaklah salah seorang di antara kalian dapat mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan sesuatu yang diperbolehkan karena khawatir terjerumus pada hal-hal yang tidak diperbolehkan. (HR Tirmidzi).

Meneladani Nabi Muhammad saw. dan salafusaleh dalam mengkonsumsi yang mubah. Rasulullah saw. selalu bersikap sederhana dan tidak berlebihan dalam hal yang mubah. Begitu juga dengan para sahabat dan ulama salaf. Beliau saw. bersabda, Orang mukmin makan dengan satu perut, sedang orang kafir makan dengan tujuh perut. (HR Bukhari)
Banyak ulama salaf yang zuhud dan meninggalkan gaya hidup berlebihan. Umar bin Khaththab ra. pernah berkata, “Cukuplah seseorang disebut pemboros bila ia selalu makan apa-apa yang diinginkan.” (Riwayat Ahmad).

4. Tidak berlebihan dalam hal yang mubah baik secara kualitas maupun kuantitas. Allah swt. berfirman,
وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا …
Dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
(Al-Isra’/17: 26)

Tercelanya Sikap Berlebihan dalam Mengkonsumsi yang Mubah

Sikap berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah adalah sesuatu yang dilarang dan amat tercela, karena menimbulkan dampak negatif yang fatal, di antaranya adalah:

1. Terhalang dari kecintaan Allah. Allah swt. berfirman, Janganlah engkau berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf/7: 31)

2. Menjadi saudara seitan. Firman Allah swt., Dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros itu saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (Al-Isra’/17: 26-27).

3. Allah menamainya sebagai orang yang bodoh. Allah swt. berfirman, Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (bodoh) harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. (An-Nisa’/4: 5). Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa “orang-orang yang belum sempurna akalnya (sufaha’)” adalah orang-orang yang boros dalam menggunakan hartanya.

4. Terjerumus dalam kekafiran dan nafsu syahwat, misalnya Fir’aun dan kaum nabi Luth a.s. Allah swt. berfirman, Dan sungguh ia (Fir’aun) termasuk orang yang melampaui batas (boros). (Yunus/10:83)
Tentang kaum Nabi Luth, Allah swt. berfirman, Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (Al-A’raf/7: 81)

Terjerumus dalam kerusakan fisik dan psikis, seperti kelemahan fisik, kekesatan hati, tumpulnya fikiran, kehendak yang buruk, tidak memiliki daya tahan menghadapi masalah, dan kebangkrutan. Karenanya sebagai bentuk antisipasi terhadap semua dampak buruk ini, Rasulullah saw. bersabda,
“Tiga hal yang mendatangkan keselamatan … sederhana dalam keadaan kaya atau miskin” (HR…..).

5. Mendapat siksa di akhirat. Sabda Rasulullah saw.,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ …. عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اِكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ . رواه الترمذي
Kedua kaki seorang hamba tidak beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal… tentang hartanya, darimana ia memperoleh dan untuk apa ia membelanjakan. (HR Tirmidzi).

Maraji’
1. Abdul Hamid Hakim, Tahdzibul Akhlaq.
2. Sayyid Muhmammad Nuh, Afatun ‘Alaa Thariq.
3. An-Nawawiy, Riyadhus-Shalihin.
***

Subhanallah…indah bukan. Dengan tetap mengukur diri sendiri, terus meningkatkan kualitas dan kapasitas diri, terus belajar… itulah kenapa tarbiyah berlaku pada setiap diri ^_^.

Satu hikmah lagi, bahwa benturan terhadap idelaisme itu sangat penting dan tinggi sisi kebutuhannya. Agar tak terlalu terbang tinggi mengawang-awang dan sampai melupakan bumi tempat sesungguhnya berpijak. Tak lain tak bukan adalah untuk menguji idealisme itu sendiri. Seseorang tidak dikatakan beriman jika belum datang ujian terhadapnya bukan…?

Sekali lagi, indah…

Wa allahu a’lam bishshawab

sumber:
http://ayo-tarbiyah.blogspot.com/2009/10/tidak-berlebihan-dalam-mengkonsumsi.html
http://unikbin-ajaib.blogspot.com/2009/07/asal-tiaptiap-sesuatu-adalah-mubah.html

Satu Tanggapan to 'Dudukanlah, sampai terlihat keindahannya'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Dudukanlah, sampai terlihat keindahannya'.

  1. Dwi Widya said,

    Hmmmfff, tepat sasaran nih ke diri sendiri +_+
    Introspeksi jalan terus, mengukur mana-mana saja yang mesti dikurangi…
    Bismillah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: